Kamis, 29 Januari 2009

Menemukan Sahabat Sebenarnya

Manusia adalah makhluk sosial, tidak bisa hidup tanpa orang lain. Sudah banyak sekali kalimat itu disebut-sebut, di buku-buku IPS dan PKn terutama. Di dalam Al-Quran juga banyak ayat tentang muamalah, tentang cara-cara bergaul dengan sesama manusia.

Sekarang tentang sahabat. Kalau saya mendefinisikan sahabat sebagai orang yang connect dan compatible dengan kita. Mereka bisa kita ajak membicarakan sesuatu (connect = nyambung) dan mau menerima sikap-sikap kita (compatible = sesuai). Bukan berarti menerima kalau kita perlakukan dia dengan buruk, tapi menerima kita apa adanya dan tidak mengharapkan adanya sikap yang tidak kita punya dalam diri kita. Dia bisa menyesuaikan diri dan membuat kita bisa menyesuaikan diri juga.

Yang saya lihat sekarang ini, tidak banyak yang tulus dalam berteman. Orang-orang yang "merasa" memiliki kelebihan -baik kelebihan otak (pintar maksudnya), kelebihan wajah (artinya cakep), kelebihan harta (sudah pasti paham), kelebihan koneksi, juga kelebihan-kelebihan lain kecuali kelebihan berat badan (tapi kelebihan berat badan yang diikuti kelebihan sebelumnya tentu tidak termasuk)- seringkali dikelilingi orang-orang yang memiliki kelebihan sama atau yang memiliki kelemahan tapi punya nyali. Sedangkan orang-orang yang "merasa" memiliki kelemahan -kebalikan dari kelebihan-kelebihan diatas tadi- cenderung membentuk kelompok sendiri yang memisahkan diri dari kelompok berkelebihan.

Tapi kalau boleh saya memberi pendapat, kelompok orang-orang "merasa" berkelemahan tadi justru memiliki keterkaitan emosi yang lebih tinggi antar anggotanya. Artinya mereka lebih saling connect dan compatible, karena masing-masing merasa memiliki kelemahan sehingga egonya tidak terlalu tinggi. Coba saja orang-orang yang "merasa" berkelebihan, mereka seringkali melihat orang lain lebih rendah karena orang itu memiliki kekurangan. Sifat manusia kan, yang lebih suka melihat ke atas daripada ke bawah.

Bukan berarti saya mencap orang-orang yang "lebih" dengan stempel angkuh, tapi seringkali tanpa disadari mereka membangun sebuah tembok di sekeliling mereka sehingga membuat orang-orang yang "kurang" menciut untuk mendekat. Saya hanya menulis hal-hal yang saya rasakan di sekitar saya.

Saya hanya ingin agar semua orang "merasa" memiliki kekurangan dalam kelebihannya dan "merasa" memiliki kelebihan dalam kekurangannya. Sehingga tidak ada sekat untuk mencari orang yang connect dan compatible, yang akan kita sebut sebagai sahabat.

Jumat, 23 Januari 2009

Aku takut sunyi
Hanya desir angin
Suara-suara mati
Sosok-sosok pergi
Kicau burung terhenti

Aku takut sendiri
Menggigil dingin
Menuliskan sedih
Pena putih
Diatas kertas sepi

Tapi kesunyian
Namun kesendirian
Punya pesona indah
Membuatku suka
"Dengan terpaksa"

Tetap saja aku
Suka ramai
Merasa hidup
Diantara canda
Diantara tawa
Berselimut senyum
Cerah